Jakarta, Hariankhazanah.com – Mahakarya Randai 4 bertajuk “Bujang Sambilan: Legenda Danau Maninjau” sukses digelar selama 2,5 jam, seolah membawa aura Danau Maninjau ke jantung ibu kota.
Sutradara Jose Rizal Manua dan Joharsen meramu kisah klasik Minangkabau dengan koreografi randai, silat, tari, dendang, dan musik talempong menjadi satu narasi cerita yang memukau.
Anindita Saraswati bertindak sebagai Puti Rasani, Ridwan Kainan sebagai Giran, dan Rio Chan sebagai Palimo Bayua berhasil menghidupkan legenda yang diwariskan turun-temurun masyarakat Agam.
Kegiatan istimewa tersebut, dihadiri Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar yang mewakili Gubernur Sumbar, Syaiful Bahri, perwakilan Gubernur DKI Jakarta, serta Kepala BPSDM Kementerian Dalam Negeri RI.
Kehadiran tiga pejabat ini jadi bukti bahwa randai bukan hanya dinikmati pecinta seni tradisi, tapi juga mendapat ruang di hati para pemangku kebijakan. Randai bukan sekadar seni daerah, tapi aset budaya nasional yang layak dijaga.
Selain itu, pertunjukan yang merupakan kolaborasi Sumbar Talenta Indonesia, Gerakan Mudo Minangkabau, Sanggar Sofyani, dan didukung Kementerian Kebudayaan RI ini memadukan tradisi dengan narasi modern, sementara penonton dari komunitas Minang di Jakarta hingga penikmat seni umum kompak berkomentar.
“Merinding pas adegan galodo-nya. Apalagi lagu Minangkabau yang dinyanyikan Andha Zulfirman di awal pertunjukan, sampai memancing penonton ikut bernyanyi bareng,” kata Syaiful Bahri, Sabtu malam (20/6/2026).
Menurut Syaiful Bahri yang juga mantan penari, bagian paling berkesan adalah Tari Manggaro Sofyani.
“Tari ini punya nilai estetika tertinggi dari semua karya Sofyani. Baik gerak, musik, maupun temanya, menyatu dengan mahakarya sehingga pesannya sampai,” ujarnya.
Syaiful Bahri menambahkan, mahakarya randai empat menjawab keresahan budaya di tengah gempuran konten AI, randai membuktikan seni tradisi yang dilakoni manusia utuh masih punya ‘api’ yang tak bisa digantikan algoritma.
“Jose Rizal Manua dan Joharsen berhasil memadukan tradisi dengan teater modern untuk diwariskan ke generasi berikutnya,” tuturnya.
Dalam pertunjukan tersebut, dihadiri istri dan keluarga besar Yus Dt. Perpatih Sabatang, almarhum sang petutur kisah Bujang Sambilan yang penuh fitnah, kekuasaan dan cinta serta tak dihargainya mamak dalam keluarga. Di saat terakhir, pertunjukan menjadi emosional saat diputar video pesan Datuk Yus, sebelum meninggal agar tetap merawat budaya Minangkabau
Selain itu Sekretaris Satu Pena, Armaidi Tanjung,Ketua Rang Kayo Minang Lusie Sofyan, Mira Gusniwarti, Ketua Bundo Kanduang Tanah Datar,
Founder Sumbar Talenta Indonesia, penggagas Mahakarya 1, Randai bersama Agus Siswanto, Ketua Gemumi, dan Kurniawati, mantan Ketua Gemumi. (Murdianyah Eko)








