Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Banner Harian Khazanah
KesehatanKomunitas

IDAI Sumbar Berikan Layanan Komprehensif untuk 631 Anak Terdampak Bencana Hidrometeorologi

×

IDAI Sumbar Berikan Layanan Komprehensif untuk 631 Anak Terdampak Bencana Hidrometeorologi

Sebarkan artikel ini
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) cabang Provinsi Sumatra Barat, memberikan bantuan kepada  631 Anak Terdampak Bencana Hidrometeorologi dan pemeriksaan. Ist 

Padang, Hariankhazanah.com – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) melaksanakan respons tanggap darurat bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di daerah ini pada periode November hingga Desember 2025. 

Kegiatan ini difokuskan pada pelayanan kesehatan anak secara komprehensif, mencakup layanan medis, gizi darurat, serta dukungan kesehatan mental dan psikososial. 

Iklan
Example 300x600
Scroll Untuk Baca Artikel

Ketua IDAI Cabang Sumbar dr. Asrawati, M.Biomed, Sp.A(K), Subsp.TKPS, FISQua, CIIQA mengatakan, anak-anak khususnya bayi dan balita, merupakan kelompok paling rentan dalam situasi bencana sehingga membutuhkan intervensi khusus dan terintegrasi. 

“Bencana hidrometeorologi yang terjadi, termasuk banjir di Kota Padang pada akhir November 2025, berdampak besar pada kesehatan anak. Bayi dan balita membutuhkan perhatian khusus, terutama terkait gizi, tumbuh kembang, dan kesehatan mental,” kata dr. Asrawati Sabtu (19/12/2025). 

IDAI Sumbar memberikan pelayanan kesehatan di posko pengungsian dan melalui kunjungan rumah (home visit) yang tersebar di tujuh kabupaten/kota terdampak, yakni Kabupaten Agam, Pesisir Selatan, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok, Pasaman, serta Kota Padang. 

Baca Juga:  Kajari Padang Bersama IAD Memberikan Bantuan Kepada Pegawai Terdampak Banjir

Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan, rujukan medis, deteksi dini gangguan tumbuh kembang, skrining gangguan tidur, gangguan kecemasan, hingga post-traumatic stress disorder (PTSD) pada anak. 

Berdasarkan data hingga 16 Desember 2025, tercatat 631 pasien anak telah mendapatkan pelayanan kesehatan. Kasus terbanyak adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebanyak 373 kasus atau sekitar 59 persen. 

Selain itu, IDAI Sumbar juga, menemukan merebaknya kasus campak disalah satu posko pengungsian di Matur, Kabupaten Agam, yang menjadi perhatian serius, karena tingginya risiko penularan di lingkungan pengungsian.

Menurut dr. Asrawati, temuan tersebut menegaskan pentingnya upaya pencegahan penyakit menular tetap berjalan di situasi darurat.

“Kasus campak di posko pengungsian menunjukkan bahwa, imunisasi tetap harus menjadi prioritas meskipun berada dalam kondisi bencana,” katanya. 

Selain kesehatan fisik, IDAI Sumbar, juga menaruh perhatian besar pada dampak psikologis pascabencana. 

Kegiatan trauma healing dilakukan melalui pendekatan bermain, menggambar, bernyanyi, serta aktivitas ramah anak lainnya dengan melibatkan orang tua dan relawan terlatih. 

Baca Juga:  Riang Gembira Anjangsana PWRI Sumbar ke Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu

Dari hasil skrining di Palembayan, Kabupaten Agam, menunjukkan 65 persen anak mengalami gangguan tidur, sementara sebagian anak teridentifikasi mengalami gangguan kecemasan yang memerlukan pemantauan dan rujukan lanjutan.

Dalam aspek pemenuhan gizi, IDAI Sumbar mengimplementasikan, intervensi Pemberian Makan Bayi dan Anak dalam Situasi Darurat (PMBA/IYCF-E). 

Hasil pendataan menunjukkan sekitar 400 bayi dan balita di lokasi pengungsian membutuhkan makanan pendamping ASI (MPASI).

“Kami melakukan pendataan, penyiapan, pengolahan, hingga distribusi MPASI ke posko pengungsian, disertai edukasi kepada orang tua agar pemberian makan tetap aman dan sesuai usia anak,” jelas dr. Asrawati.

Sebagai bagian dari perlindungan kelompok rentan, IDAI Sumbar juga mendorong pembentukan Ruang Ramah Ibu dan Anak (RRIA) di lokasi pengungsian. 

Ruang ini dirancang aman, privat, dan nyaman bagi ibu hamil, ibu menyusui, serta anak usia 0–5 tahun, serta dilengkapi fasilitas pendukung menyusui, PMBA, sanitasi layak, edukasi, dan konseling yang dikelola oleh petugas terlatih.

Dalam pelaksanaannya, IDAI Sumbar mencatat sejumlah kendala, di antaranya keterbatasan akses obat-obatan rutin untuk penyakit kronis anak seperti epilepsi, serta terbatasnya alat kesehatan di beberapa lokasi. 

Baca Juga:  SatuPena Sumbar Gelar Bedah Buku dan Baca Puisi Sinergi Karya Penyair Indonesia-Malaysia

Oleh karena itu, IDAI merekomendasikan penguatan ketersediaan obat di rumah sakit kabupaten/kota serta perlunya jaminan layanan kesehatan yang jelas bagi anak-anak yang kehilangan orang tua akibat bencana melalui koordinasi lintas sektor.

“Respons bencana untuk anak harus dilakukan secara terkoordinasi dan berkelanjutan agar dampak jangka panjang dapat dicegah,” tutup dr. Asrawati. (Murdiansyah Eko)